Bismillahirrahmanirrahiim …..
KETIKA MAS GAGAH PERGI
Gagah Perwira Pratama merupakan pria tampan yang memiliki seorang adik bernama Gita, mas Gagah dan Gita adiknya sangat dekat dari kecil. Gagah selalu berbagi apapun pada Gita adiknya . hingga dewasa Ayah mereka meninggal, Gagah,Gita dan Ibunya sangat terpukul atas kepergian ayahnya. Sekarang hanya ibu mereka lah yang menjadi tulang punggung dibantu Gagah yang selain kuliah,ia juga bekerja sebagai model.
Semenjak kepergian ayahnya, Gagah dan Gita menjadi semakin dekat. Mereka selalu berbagi cerita, tak ada rahasia diantara mereka, mereka selalu menghabiskan waktu bersama,mulai dari mengantar adiknya ke sekolah,jalan-jalan, nonton film atau konser music mereka lakukan bersama-sama. Tak jarang mereka membuat lelucon-lelocon yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak, bahkan mereka merencanakan akan pergi liburan ke korea atau ke turki bersama, mereka nyaris tak terpisahkan. Gita merasa orang paling beruntung karena memiliki kakak yang baginya begitu sempurna, kakak yang membuat teman-temannya iri kepadanya. Hingga tiba saatnya Mas gagah harus pergi ke Ternate untuk melakukan penelitian kuliahnya selama 2 (dua) bulan. Gita merasa sangat kehilangan kakaknya itu,terlebih ternate merupakan daerah pedalaman sehingga sulit untuk menjalin komunikasi dengan Mas gagah.
Dua bulan kemudian, Sepulang dari Ternate, Ibu dan Gita dibuat terkejut dengan perubahan Gagah,baik dari penampilan maupun perilaku. Gagah yang dulu humoris,blak-blakan, sering menemani adiknya jalan-jalan, suka mengganggu adiknya kini berubah menjadi pria berjanggut,yang dulunya suka lagu bergenre rock kini menyukai music-musik islami, yang dulu mengenakan pakaian modis ala model kini sehari-harinya mengenakan baju koko, dan yang membuat Gita semakin kesal kepada Gagah, kini Gagah sudah tak ada lagi waktu untuk menemaninya jalan-jalan, nonton konser dan jalan. Gagah kini disibukkan denga kegiatan dakwah, dia kini sibuk mendalami pengetahuan mengenai agama islam. Gagah begitu semangat ingin mengenal lebih jauh tentang islam, ini semua berkat Kyai Ghufron yang ia kenal selama dua bulan di Ternate. Kyai Ghufron mengajarinya banyak hal tentang hidup, tentang islam dan tentang kebenaran yang selama ini belum ia ketahui.
Berbeda dengan Gita, Gita belum bisa menerima perubahan pada Gagah. Dia pun menolak untuk diantar kesekolah oleh Kakaknya itu. Gita lebih memilih naik bus daripada harus diantar dengan Gagah. Diperjalanan kesekolah diatas bus, ada seorang pria yang kira-kira sebaya dengan kakaknya,namanya Yuda. Pria ini gemar berdakwah diatas bus penumpang mirip gaya orasi, suaranya bergema mengisi ruang-ruang bus. Namun bukan pujian yang iya terima namun cacian dari penumpang bus yang merasa terganggu dengan dakwah yang dilakukan Yuda,termasuk Gita yang terlihat begitu membenci Yuda, karena setiap melihatnya,maka ia akan selalu teringat kakaknya yang dianggapnya terlalu fanatic dengan ajaran agama islam. Namun Yuda tak sedikitpun gentar untuk menyampaikan dakwahnya, setelah dakwah yang ia sampaikan selesai barulah ia akan turun dari bus. Dan ada satu hal yang menarik dari yuda ini, dia tak mau menerima sepeserpun uang dari penumpang layaknya pengamen yang apabila bernyanyi akan meminta imbalan bayaran.
Yuda sendiri merupakan anak seorang Ustadz/kyai yang memimpin sebuah pesantren, Ayah Yuda sendiri tidak setuju dengan cara yuda berdakwah dijalan. Ayah Yuda ingin Yuda berdakwah didalam pesantren yang Ayahnya pimpin. Namun Yuda berpendapat bahwa dakwah haruslah disampaiakan kepada seluruh umat diamanapun,seperti hadist Nabi “ sampaikanlah walau hanya satu ayat” . Mendengar hal ini Ayah Yuda semakin Geram,namun tak merubah pendirian Yuda. Yuda tetap saja berdakwah di busway setiap harinya, dan selalu saja ia bertemu dengan Gita.
Pada suatu hari, Gagah menemukan sebuah dompet dan berniat mengembalikan dompet tersebut kealamat yang tertera di KTP sang pemilik dompet, namun naas nya saat berada dilokasi,Gagah bertemu dengan seorang preman yang berniat merampas dompet Gagah,namun dengan mudah Gagah mengalahkannya. Akhirnya preman tersebut mengalah dan mereka bersama pergi ke suatu permukiman kecil yang didalamnya ada banyak anak kecil yang tengah belajar. Rupanya ke 3 preman yang berniat merampok Gagah tadi menjambret untuk menghidupi anak-anak didaeah tersebut, akhirnya hati Gagah pun tersentuh. Ia memberikan sejumlah uang kepada preman tersebut yang ditujukan untuk perbaikan rumah kecil tersebut agar dapat digunakan oleh anak-anak sekitar. Gagah juga mengajak teman-temannya untuk membantu mendonasikan harta mereka untuk pembangunan rumah yang dinamai “Rumah Cinta”. Mereka bergotong royong membangun dan menanam pohon didaerah tersebut. Daerah yang berada dipesisir pantai namun nampak seperti tempat pembuangan sampah,daerah tersebut dipenuhi oleh rumah-rumah kecil yang kumuh. Bangunannya kebanyakan hanya terbuat dari dus-dus dan kayu-kayuan sisa pembuangan yang mereka rakit sendiri menjadi sebuah rumah.
Semakin hari,Gita semakin dibuat penasaran dengan tingkah kakaknya, diapun diam-diam masuk kekamar Mas Gagah dan membuka laptopnya, dia melihat isi laptop Gagah yang isinya kebanyakan foto bersama anak-anak pinggiran dan “Rumah Cinta”. Namun tanpa Gita sadari,Gagah pulang dan melihat Gita sedang membuka laptopnya, sontak terjadi pertengkaran hebat diantara mereka, ibu mereka pun tidak sanggup untuk mendamaikan mereka kembali seperti dulu. Terlebih ketika Gita mengetahui bahwa uang yang dulunya buat mebiayai perjalanan Mas Gagah dan Gita keluar negeri habis digunakan Mas gagah untuk pembangunan Rumah Cinta. Gita semakin dibuat kesal oleh perilaku kakaknya yang dia anggap sangat berbeda dari yang dulu,sebelum berangkat ke Ternate.
Waktu terus bergulir, hati ibu Mas gagah yang dulunya kurang menyukai perubahan Mas gagah berangsur luluh, mungkin ini disebabkan oleh nuraninya yang terketuk ketika berkunjung ke Rumah Cinta, disana ia melihat apa yang selama ini yang dilakukan oleh anaknya adalah untuk kepentingan orang banyak. Bahkan salah seorang dari anak tersebut memberikan sebuah jilbab kepadanya yang merupakan hasil karya anak tersebut, disitulah ibunda Mas Gagah hatinya mulai terketuk oleh keindahan islam, perlahan tapi pasti hidayah itu sedanga berjalan menghampiri sanubarinya. Gita pun dibuat tercengang melihat perubahan ibunya yang dulu sependapat dengan Gita, kini beranjak mulai menggunakan hijab. Yaah seperti itulah hidayah, dia datang kepada siapa yang dikehendakiNYA.
Suatu ketika, Mas gagah mencoba berdamai denga Gita,dia mengajak Gita keluar untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan dengan perjanjian sepulang dari pesta maka mereka boleh pergi kemanapun yang Gita inginkan. Tentu saja Mas gagah setuju. Hal ini membuat Gita merasa bahwa Mas Gagah yang dulu telah kembali.
Sesampai diacara tersebut,Gita dibuat terkejut karena ditempat tersebut jauh dari kata pesta yang selama ini ia ketahui. Ada dinding pembatas yang memisahkan pria dan wanita, sehingga tidak akan terjadi ikhtilat atau campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Pesta pernikahan tersebut sangat kental akan nuansa islaminya dan dipenuhi dengan perempuan-perempuan berhijab. Sontak Gita terkejut, selain hanya dirinyalah yang tidak menggunkan jilbab,juga ia merasa Mas gagah telah membohongi dirinya, diapun melewati pembatas tersebut dan memaksa Gagah untuk pulang, hal tersebut tentu membuat keributan didalam pesta karena tidak boleh ada yang melewati dinding pembatas tersebut. Bukannya mendamaikan mereka, kejadian ini justru semakin membuat Gita semakin kesal kepada kakaknya.
Disekolah. Gita dibuat terkejut dengan perubahan sahabatnya. Kini sahabatnya juga telah menggunakan jilbab. Akhir-akhir ini Gita memang sering mencari tau tentang islam, ia selalu berkunjung ke Rohis sekolahnhya dan sedikit bertanya-tanya tentang dakwah dan islam. Namun ia tidak menyangka kalau sahabatnya kini telah berhijab sesuai ajaran islam.
Suatu ketika ada sebuah kecelakan dipinggir jalan, dalam waktu bersamaan Gita menyusuri tempat tersebut dan melihat kejadian itu. Gita dibuat terkejut karena ia melihat seorang yang ia benci karena sering mangganggu ketenangannya di busway dengan suaranya membumikan dakwah islam itu berada dilokasi kejadian,ya Yuda. Yuda sedang membantu seorang ibu yang tengah menggendong seorang bayi,salah seorang korban kecelakaan. Ibu itu sedang mencari suaminya yang katanya sedang ke gereja,pak Yohannes namanya. Tanpa segan Yuda meminta ibu itu menununggu karena ia akan mencari suami ibu tersebut. Hati Gita langsung tersentuh melihat kebaikan hati Yuda yang tidak memandang bahwa orang tersebut beragama islam atau bukan,namun dia tetap menolongnya. Gita mulain berpikir bahwa islam adalah agama yang benar, agama yang mengajarkan kebenaran. Bukan aliran sesat seperti yang ia yakini selama ini, islam tidak segan membantu sesamanya yang sedang membutuhkan pertolongan, tidak peduli ia muslim atau non-muslim. Hati Gita mulai luluh, segala-segala prasangka-prasangka yang ada dihati Gita mulai berguguran. “Jika Kita belum bisa menerima suatu kebaikan yang belum kita pahami,setidaknya cobalah untuk memahaminya”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar